mk7 Shrine
Anything about English Translation
The Blacklist Season 05 Episode 18
Zarak Mosadek (No. 23)
Seorang pemuda tanggung berjalan dengan santai menyusuri trotoar. Dia mengenakan penutup kepala berwarna hitam yang merupakan perpanjangan dari jaket berwarna sama yang dikenakannya. Wajahnya terlihat bersih dan ramah. Dia menikmati suasana hari itu dengan lagu yang riang melalui earphone yang menempel di telinganya.
Pemuda itu bernama Mateen.
Sementara itu, agak jauh di belakang Mateen, seorang wanita berwajah khas Perancis berjalan sambil matanya melihat-lihat ke kiri dan ke kanan, seolah sedang mencari sesuatu. Wanita itu mengenakan jas berwarna coklat terang. Sebuah tas kecil berwarna hitam tersandang di pundaknya. Tangan kanannya memegang kertas terlipat yang mirip seperti sebuah peta wisata.
Wanita itu kemudian melihat ke arah Mateen. Dipercepatnya langkah kakinya untuk menyusul Mateen. Tangan kanannya terangkat.
“Permisi,” katanya dalam bahasa Perancis.
Mateen menghentikan langkah dan menengok ke arah wanita Perancis itu. Wajahnya tersenyum ramah.
Wanita itu agak ragu-ragu tapi kemudian meneruskan. “Maaf, tapi aku tersesat.”
“Oh, tidak masalah,” jawab Mateen. “Kau mau ke mana?”
Wanita itu menunjukkan peta di tangannya.
“Aku mau ke Boulevard Saint Germain tapi tidak tahu tempatnya. Bisa tolong kau tunjukkan?”
Mateen lagi-lagi tersenyum. Wajahnya didekatkannya untuk melihat peta di tangan wanita Perancis itu.
“Tidak jauh, kok.” Tangan kanan Mateen terulur untuk menunjukkan letak lokasi yang dituju oleh wanita itu. “Boulevard Saint Germain itu ada di…”
Tiba-tiba sebuah mobil van berwarna hitam berhenti tepat di belakang mereka berdua. Beberapa laki-laki bertubuh besar keluar dengan cepat dari mobil van itu dan meringkus Mateen dari belakang. Wanita Perancis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling sambil bergegas memasuki mobil yang sama.
Mateen berusaha melawan. Tapi, seorang pemuda tanggung seperti dia, mana sanggup melawan laki-laki bertubuh besar dan lebih dari satu?
***
Siapa Mateen? Kenapa dia diculik? Siapa wanita berwajah Perancis itu? Siapa pula laki-laki dengan mobil van yang menculik Mateen? Bagaimana kabar Aram? Dan Liz? Ada satu rahasia Ian Garvey – dan ternyata juga Raymond Reddington – yang berhasil dibongkar Aram dan Liz? Apa itu?
Ikuti episode terbaru The Blacklist Season 05 Episode 18 berjudul Zarak Mosadek (No. 23), tentu dengan subtitle bahasa Indonesia dari saya.
Mary and the Witch's Flower (2017)
Mary Smith menatap rumah bibi buyutnya, Charlotte, dan hamparan alam yang sebenarnya cukup indah di hadapannya dengan pandangan menerawang. Dia sedang merasa bosan dan bersedih karena belum memiliki teman di desa Redmanor, desa di mana dia baru saja dipindahkan. Orang tuanya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan sehingga terlambat datang.
Mary mendesah, lalu menikmati roti yang dibawakan Bibi Buyut Charlotte saat seekor kucing berwarna hitam legam muncul dari balik susunan batu bata di mana Mary duduk. Matanya hijau seperti zamrud.
Kucing itu berjalan mendatangi Mary sambil mengeong pelan.
Mary menoleh. Spontan, tangannya mencuil roti yang ada di tangannya dan mengulurkannya pada kucing itu.
“Mau?” Dia berkata.
Kucing itu melompat naik ke tempat Mary duduk dan mendekati tangan Mary. Lalu dia memakan roti itu pelan-pelan.
“Enak? Syukurlah kalau kau suka,” kata Mary.
Mary menghabiskan sisa roti di tangannya sambil mengemasi kotak rotinya dan memasukkannya ke dalam tas yang dibawanya.
Mary kemudian menatap kucing itu dan berkata, “Pasti menyebalkan ya menjadi kucing hitam? Semua orang menganggapmu sebagai lambang nasib sial.”
Kucing hitam itu membalas tatapan Mary dengan muka datar.
“Tapi aku juga sama, kok…” Mary melanjutkan.
Mary memegang rambutnya yang berwarna merah dan keriting dan dikuncir di kiri dan kanan.
“Aku punya rambut berwarna merah dan keriting… dan aku tidak punya teman makan siang…” lanjut Mary dengan wajah murung. Dia memang tidak suka dengan rambutnya.
Mary kemudian turun dari susunan batu bata tempatnya duduk, merebahkan tubuhnya ke belakang, dan menikmati lembutnya rumput tebal. Matanya tertuju ke langit. Kedua tangannya dibuka lebar-lebar seakan ingin memasukkan udara segar pedesaan sebanyak-banyaknya ke paru-parunya.
“Aku ingin membantu semua orang tapi selalu saja gagal…”
Mary terdiam sejenak. “Aku bahkan ragu, apakah hal baik akan pernah terjadi dalam hidupku…”
Kucing hitam itu menguap, lalu membalikkan tubuh dan melompat turun.
Mary mengangkat tubuhnya. “Hei, tunggu. Aku belum selesai bicara.”
Tapi kucing hitam itu seperti tidak peduli. Dia berjalan perlahan menuju sebuah pohon kecil dengan gundukan semak di bagian bawahnya. Saat kucing itu keluar di sisi lain dari gundukan semak di bawah pohon itu, Mary terbelalak…
“Hei… kenapa bulumu berubah warna menjadi abu-abu…?!” Mary berteriak.
Kucing hitam – yang sudah berubah warna menjadi abu-abu – itu mendadak berlari menjauh.
Mary bangkit berdiri. Sambil meraih tasnya, dia berlari mengikuti kucing itu. Rasa penasaran memenuhi hatinya.
Mary terus mengikuti kucing itu hingga sampai ke pinggir sebuah hutan. Saat Mary memperhatikan kucing itu lagi, dia kembali terkejut.
“Wah, sekarang berubah hitam lagi…?!”
Kucing itu berhenti sejenak untuk berbalik dan menatap Mary. Sesaat kemudian, kucing itu melompat memasuki hutan. Mary terpana tapi segera berlari menyusul kucing itu. Dia belum pernah ke hutan dan dia takut tersesat. Tapi dia penasaran. Dengan mengikuti kucing itu, setidaknya ada harapan bahwa kucing itu akan keluar lagi meninggalkan hutan.
Mary kehilangan kucing itu. Tapi dia terus berjalan hingga akhirnya sampai di sebuah tempat terbuka.
Mary terheran-heran. Semua pohon di tempat itu mati dan kering. Rumput-rumputnya pun berwarna coklat.
Agak di tengah, Mary melihat dua ekor kucing sedang menatapnya dari atas batang pohon yang kering dan mati. Mary tersenyum.
“Oh, aku tahu. Kalian sebenarnya ada dua,” kata Marry senang.
Kucing itu kemudian berbalik membelakangi Marry dengan ekspresi gusar. Mary maju ke depan untuk melihat lebih jelas apa yang sedang mereka berdua hadapi.
Mata Mary terbelalak.
Di hadapannya, ada sebidang tanah kecil yang ditumbuhi rumput hijau yang membentuk sebuah lingkaran. Dan di bagian tengahnya, ada beberapa tangkai bunga berwarna ungu yang sedang mekar. Bunga itu memancarkan cahaya terang. Cantik sekali.
Mary berjalan mendekat. Tangannya hendak meraih bunga itu.
Kucing-kucing di belakangnya menggeram marah.
Mary menengok ke belakang ke arah kucing-kucing itu…
***
Bagaimana cerita selengkapnya? Tonton ‘Mary and the Witch’s Flower’. Tentu dengan subtitle dari saya.
The Blacklist Season 05 Episode 17
Anna-Gracia Duerte (Nomor 25)
Sebuah mobil sedan berwarna hitam berhenti di depan sebuah rumah yang megah dan mewah. Seorang pria, Jerry Jawal, turun dari mobil itu dan berjalan menuju rumah itu. Tanpa memencet bel, karena dia adalah pemilik rumah itu sendiri, dia masuk dan melepas syal merah yang dikenakannya.
“Reva, aku pulang,” katanya sambil meletakkan syal-nya di atas meja.
Tidak ada jawaban.
“Di mana kau?” Jerry melanjutkan.
Dia melangkah memasuki ruangan lain di rumah itu dan menemukan seorang gadis muda, Reva, tengah duduk sambil mengerjakan PR sekolahnya.
“Reva!” Dia memanggil namun tidak mendapat jawaban.
Sebuah musik lembut namun mengalun keras melalui earphone membuat Reva tidak menyadari kondisi sekitarnya.
Jerry berjalan mendekat dan melepaskan earphone dari telinga kiri Reva.
Reva terkejut. “Hai…” Spontan dia berkata.
“Bagaimana kau bisa berkonsentrasi dengan alunan musik yang begitu keras?” tegur Jerry dengan suara lembut.
“Ini justru membuatku fokus,” jawab Reva tersenyum.
“Ah, masa…?” Jerry menggoda. “Nilaimu sih tidak menunjukkan itu…”
“Jangan mulai ya…” kata Reva dengan suara merajuk.
Jerry tersenyum.
“Butuh bantuan? Aku jago berhitung loh…” Jerry berkata sambil melihat pekerjaan Reva.
“Tenang saja, aku bisa kok,” jawab Reva. “Kau mau makan? Makan malam sudah siap.”
Jerry melihat ponselnya. “Mungkin sebentar lagi. Aku ada rapat.”
Reva mencibir.
“Maaf,” kata Jerry. “Aku bisa apa? Ini tuntutan kerja.” Jerry mencium kening Reva dan bergegas menuju kamar kerjanya. Ada dokumen yang harus dibawanya.
“Terserah deh…” Reva tersenyum kecut, memasang lagi earphone yang dilepas Jerry dari telinga kirinya dan kembali menekuni PR-nya.
***
Jerry menutup pintu kamar kerjanya dengan hati-hati lalu berjalan ke arah lemari besi yang digunakannya untuk menyimpan semua barang berharga miliknya – uang, barang dan dokumen-dokumen penting – yang diletakkannya di pojok kamar di belakang meja kerjanya.
Jerry mengambil sebuah buku berwarna hitam, membukanya di hadapannya, dan melakukan panggilan telpon melalui ponselnya.
“Aku benci menunggu. Beri aku kabar baik, kabar yang memang layak untuk ditunggu.” Sebuah suara terdengar di ujung telpon. Suara Raymond ‘Red’ Reddington.
“Sesuai kesepakatan, aku sudah punya benda yang kau cari,” jawab Jerry dengan nada meyakinkan.
“Nah, kapan bisa kuterima?” Red sumringah.
“Tapi…” Jerry berkata, “kalau sampai Garvey tahu…”
“Tidak akan,” tegas Red. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. “Berangkatlah sekarang. Kau akan sampai di sini dalam 30 menit.”
“Tunggu… tidak…” suara Jerry terputus. Matanya terbelalak menatap ke depan. Wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut.
Suara pistol menyalak.
“Tapi… Jerry? Jerry?” Red berusaha memanggil Jerry. Tidak ada jawaban.
Sementara itu, tubuh Jerry sudah tertelungkup tak bernyawa. Darah menggenang dan membasahi buku hitam yang terbuka di sisi kiri tubuhnya.
Red menutup ponselnya dengan wajah khawatir.
Dembe yang berada di hadapannya, mengernyitkan dahi. “Apa yang terjadi?” Dia bertanya.
“Sesuatu yang buruk…” kata Red cemas.
Siapa Jerry? Apa hubungannya dengan Red? Siapa pula itu Reva? Dan punya hubungan apa dia dengan Jerry sebenarnya? Anak? Keponakan? Sepupu? Atau yang lain? Kenapa Red cemas? Karena kematian Jerry atau karena sebab lain?
Tonton filmnya, The Blacklist Season 5 Episode 17 yang berjudul Anna-Gracia Duerte (Number 25), tentu dengan subtitle dari saya.
Perkembangan lain dalam episode ini:
- Liz akhirnya tahu bahwa Red lah yang menculik saksi yang sangat diharapkannya bisa membongkar kedok Garvey. Bagaimana reaksi Liz?
- Aram ragu-ragu untuk memberikan hadiah cincin kepada Samar karena khawatir akan menimbulkan salah paham. Apakah Aram akhirnya memberikannya kepada Samar atau tidak?
- Konfrontasi langsung antara Red dan Garvey akhirnya dimulai. Red terpaksa mencari perlindungan. Kenapa? Kemana?
Subscribe to:
Posts (Atom)